Jumat, 04 Mei 2012

KEBAHAGIAAN DIBALIK KESEDIHAN


Walaupun beliau galak,tetapi beliau sangatlah menghibur,ia selalu membela murid didiknya,beliau mengajar pelajaran ekonomi dari kelas x1 sampai x8 dan merupakan walikelas dari x5,nama lengkapnya adalah bapak Akhmad Sukarna yang akrab dipanggil pak Ujang,banyak alasan mengapa beliau hanya mau dipanggil dengan kata-kata Ujang,salah satunya nama “ujang” itu terkenal dimana-mana,khususnya di daerah yang deradatkan sunda seperti di Bandung,ketika kita (laki-laki) jalan-jalan  di pasar dan menolehkan ke barang dagangan para pedagang,mungkin kita akan dipanggil “hayang meuli naon jang”  dan ujang pasti merasa senang karena namanya yang terkenal sepanjang pasar... pertamakali saya diajar oleh beliau yaitu ketika saya duduk di bangku SMA kelas X,tepatnya kelas X 5. Ceritanya begini ; ketika kelas sedang diabsen,dan beliau membaca nama lengkap saya,dan beliau langsung mengatakan “jamaaaah” ooy “ooy jamaaah” oooy “alhamdu...lillah” seperti gayanya ustad Maulana yang ada di trans tv, “mentang-mentang nama gue depannya Maulana gue jadi disamain sama ustad maulana dah,emang lu kira gue ustad maulana apa?” kata aku dalam hati sambil berbisik ke teman semeja aku yang bernama Fahrul. Memang sih saya merasa jengkel, tetapi pas kesananya, aku tidak kena ecengan lagi,malahan yang kena teman saya yang bernama Didi,dia dikatain botak oleh pak ujang dan selalu saja yang disalahin itu si Didi,entah ia dikatain penjahat lah,goreng lah,botak lah,dan lain sebagainya. Tetapi tidak pada si Renda,ia malahan dikatain celeng sama beliau,sampai ia selesai jabatannya menjadi ketua kelas.


 Tetapi yang mengganti si Renda adalah si Didi,walaupun Didi sering dikatain sama pak ujang tetapi pak ujang memberikan kepercayaannya kebih besar kepada Didi daripada Renda. Kami selalu diberikan ide-ide yang cemerlang,dari yang namanya mendekorasi kelas,menyelesaikan permasalahan guru dari nilai sampai kelakuan,sampai menyusun acara dan kegiatan yang akan dilakukan nanti. Sayangnya,ada beberapa ide dan perencanaan pak ujang yang tak dapat kami capai,karena pak ujangnya sendiri juga sedang sibuk dan sedih karena memikirkan putri sulungnya yang bernama LALA,ia adalah anak pak ujang yang sering dipanggil Ayu tingting,sampai pernah dibawa ke RS Harapan Kita,yang letaknya tak jauh dari RSKD Dharmais,ketika kami mendapatkan kabar bahwa si LALA akan dioperasi,kami anak x5 mengadakan sumbangan selama 1 minggu untuk anaknya pak ujang,itupun semampunya,jika tidak ya ga apa”lah.
Sampai akhirnya tiba hari ulangtahunnya pak ujang,ini membuat kami sangat geregetan. 1 hari sebelum perayan ulangtahunnya pak ujang seperti biasa,kami patungan untuk membeli kado,bingkai, kue tart,dan menyetak foto untuk merayakan kejutan untuk hari ulangtahunnya pak ujang. Malamnya,group kelas kami banyak yang ol untuk mengetahui apa rencananya,ada yang ngusulin isengin pak ujang dengan cara ngebakar jenggotnya pak ujang lah,ada yang ngerencanain ngasih garam ke kopinya pak ujang lah,ada yang mau ngelumurin bangkunya pak ujang pake balsem lah,ada yang mau ngelemparin pake tepung sama telor lah, ada yang apa lah,dan lain-lain,tetapi juga yang bener aja kali,masa seorang guru kita bercandain sampai separah itu???
Rabu pagi,saya masuk agak awal untuk mengetahui lebih detail gimana nanti ngerjain pak ujang,si Elsa sudah membawa 2 kue tart dengan lilin 46 diatasnya dan korek apinya untuk menylakan lilinya pastinya,kondisi kelas di buat sekotor mungkin supaya pak ujang kesel,kami melarang keras petugas piket hari itu untuk merapihkan kelas. Bell jam pertamapun berbunyi,kamipun ada yang berlekiaran diluar dan didalam kelas sehingga kondisi kelas dalam keadaan rokes,dan berantakan. Lalu kami memperlambat jalan masuk ke kelas ketika pak ujang telah datang. Suasana didalam kelaspun menjadi ramai,saya sengaja membuka laptop agar ditegor oleh pak ujang,tetapi,teman saya yang sangat caper malah menegor saya,lalu di respon sama yang lain sehingga menjadi heboh,dan sayapun tak ingin ketinggalan itu,saya langsung menyalahkan teman sebangku saya,tetapi dia itu tidak melakukan apa-apa,bener-bener gue udah kayak mutados (muka tanpa dosa).  Tak lama kemudian ditengah-tengah ramainya kelas si Renda baru dateng ke kelas alias terlambat, kamipun langsung menyorakinya dan muncul harapan agar pak ujangnya marah,tetapi pak ujangnya tetap aja cuek,kamipun kesal,terus teman kami si lestaria,tsania,dan elsa pergi keluar,untuk menyiapkan kuenya, lalu ketika pak ujangnya tidak melihat ke kami si novi mengeluarkan kue tartnya dan memberikannya ke teman kami yang ada diluar melalui jendela dengan cepat.  Ketika anak lakinya mengadakan sandiwara yaitu berantem,pak ujangpun tetap aja enggak marah,ketika kedua annisa (maksudnya teman kami yang dua-duannya namanya annisa) berantem sampai teriak-teriakkan. Lalu sekelaspun menjadi ribut dan saling menyalahkan. Akhirnya satukelas sangat berisik,sampai suatu ketika ditengah keberisikan kami,si tsania masuk dengan muka serius dan menyuruh kami untuk keluar karena ia bilang “eh,kelas sepuluh 5 disuruh keluar semua kata bu erin” ketika kami beranjak keluar,kue tart pun langsung masuk kedalam kelas,kamipun serentak menyanyikan lagu happy birthday daddy,happy birthday daddy, happy birthday-happy birthday,happy birthday daddy......  awalnya dikacangin sama pak ujang,tapi pas pak ujangnya nengok akhirnya pak ujang nyengir-nyengir gitu (mungkin salting) lalu kami menyuruh pak ujang meniup lilinnya sambil bernyanyi,”tiup lilinya,tiup lilinya,tiup lilinya sekarang juga,sekarang juga,sekarang,juga... yeeee,akhirnya anak-anak lakipun menyanyikan lagu yang aneh-aneh dengan nada tiup lilin “tambah nilainya,tambah nilainya,tambah nilainya sekarang juga,sekarang,juga,sekarang juga.  Setelah perayaan ulangtahun beliau,beliau menceritakan mengapa ia diam,dan juga menceritakan anaknya yang paling bungsu yaitu si Lala,kami jadi ingat dengannya dan merasa prihatin akan kondisi Lala. Hari makin berganti sampai hari sabtu,di hari sabtu kami mengadakan makan-makan untuk kelas x5,acaranya dirumah si Agung,ia memiliki tempat makan yang bernama Moro Seneng yang bertempat didaerah pasir
TO BE CONTINUED

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar